JAKARTA – Banyak jamaah percaya bahwa perubahan terlihat setelah haji menandakan haji mabrur, padahal tanda haji mabrur tidak selalu tampak di media sosial atau perilaku yang kasat mata. Haji mabrur lebih terkait dengan hati, amal, dan konsistensi dalam memperbaiki diri.
Seringkali, jamaah yang pulang dari Tanah Suci mendapat tekanan sosial untuk terlihat berubah. Padahal, haji mabrur justru diuji melalui konsistensi dalam keseharian, seperti menjaga shalat, memperbaiki akhlak, dan menahan diri dari hal-hal negatif. Perubahan yang terlihat sekilas tidak selalu mencerminkan kemabruran sejati.
Haji Mabrur Terlihat dari Tindakan Kecil
Selain itu, haji mabrur hadir dalam tindakan kecil yang konsisten. Menolong orang, menjaga ucapan, dan kesabaran dalam menghadapi masalah merupakan tanda nyata yang jarang diperlihatkan di media sosial. Banyak jamaah merasa belum cukup berubah karena menilai diri berdasarkan ekspektasi orang lain, padahal perubahan batin berjalan perlahan.
Penting bagi jamaah untuk memahami bahwa haji mabrur bukan status, melainkan perjalanan spiritual berkelanjutan. Fokus pada amal dan konsistensi lebih utama dibanding ingin terlihat berubah di luar. Travel dan komunitas pendamping seperti WHI bisa membantu jamaah menanamkan pemahaman ini melalui refleksi pasca haji.
Dengan pemahaman yang benar, tanda haji mabrur akan muncul dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar di unggahan media sosial.


