JAKARTA – Manasik umroh sering dianggap sekadar agenda formal sebelum keberangkatan. Ada jamaah yang merasa manasik umroh tidak terlalu penting karena merasa sudah memahami tata cara ibadah dari buku atau video. Padahal, manasik umroh memiliki peran jauh lebih besar dari yang terlihat.
Secara hukum, manasik umroh bukan rukun umroh. Namun, dalam praktiknya, manasik umroh sangat membantu jamaah memahami alur ibadah secara menyeluruh. Tanpa manasik umroh, banyak jamaah kebingungan saat menghadapi situasi nyata di lapangan.
Masalah paling sering muncul saat tawaf dan sa’i. Jamaah yang tidak mengikuti manasik umroh dengan serius sering lupa urutan, doa, atau tata cara. Akibatnya, ibadah terasa terburu-buru dan tidak tenang. Padahal, manasik umroh dirancang agar jamaah siap menghadapi kondisi riil.
Manasik Umroh Jadi Ruang Bertanya
Manasik umroh juga menjadi ruang bertanya. Tidak semua kebingungan bisa dijawab oleh video daring. Dalam manasik umroh, jamaah bisa memahami skenario padatnya Masjidil Haram, waktu terbaik beribadah, hingga manajemen stamina.
Selain aspek teknis, manasik umroh berfungsi sebagai persiapan mental. Jamaah diajak memahami bahwa umroh bukan sekadar perjalanan religi, tetapi ibadah fisik yang menuntut kesabaran. Tanpa manasik umroh, ekspektasi sering terlalu tinggi.
Jadi, meski tidak termasuk rukun, manasik umroh seharusnya tidak diremehkan. Jamaah yang mengikuti manasik umroh dengan sungguh-sungguh biasanya lebih tenang dan fokus saat ibadah. Beberapa travel seperti Wisata Halal Indonesia (WHI) rutin menekankan pentingnya manasik melalui edukasi di @whi.umrohhaji agar jamaah tidak hanya siap berangkat, tetapi juga siap menjalani ibadah dengan khusyuk.

