Asal Muasal Gelar Haji, Sejak Kapan dan Apa Berlaku Sama untuk Haji Mujamalah?

Asal Muasal Gelar Haji, Sejak Kapan dan Apa Berlaku Sama untuk Haji Mujamalah?

JAKARTA – Bicara soal ibadah haji, pasti enggak asing lagi dengan gelar “haji” yang disematkan di depan nama orang yang sudah pulang dari Tanah Suci. Tapi, apa pernah kepikiran, sejak kapan dan dari mana sih asal muasal gelar ini? Apakah memang berlaku umum untuk semua jamaah haji, atau cuma tradisi masyarakat Indonesia saja? Terus, mereka yang berangkat haji mujamalah, apakah gelar haji juga berlaku sama?

Sebenarnya, gelar haji ini lebih condong ke arah tradisi atau budaya masyarakat Indonesia. Dalam Islam sendiri, enggak ada tuh anjuran atau perintah khusus untuk menyematkan gelar haji di depan nama orang yang sudah menunaikan ibadah haji. Ibadah haji itu sendiri sudah merupakan ibadah yang agung dan mulia, jadi enggak perlu ditambah-tambahin gelar lagi.

Kalau ditelusuri sejarahnya, tradisi gelar haji ini mulai populer di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda menggunakan gelar haji sebagai salah satu cara untuk mengawasi dan memantau pergerakan para jamaah haji yang pulang dari Tanah Suci. Mereka khawatir, para jamaah haji ini membawa pengaruh atau ideologi yang bisa membahayakan kekuasaan mereka.

Tapi, seiring berjalannya waktu, gelar haji ini jadi semacam simbol atau penanda bahwa seseorang sudah menunaikan ibadah haji. Masyarakat Indonesia pun terbiasa menggunakan gelar ini sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap orang yang sudah beribadah haji.

Gelar Haji Juga Berhak Diberikan untuk Jamaah Haji Mujamalah

Lalu, bagaimana dengan mereka yang berangkat haji mujamalah pada masa kini? Apakah gelar haji juga berlaku sama buat mereka? Jawabannya, ya, berlaku. Gelar haji ini enggak ada hubungannya sama jalur atau cara seseorang berangkat haji. Mau itu haji reguler, haji plus, atau haji mujamalah, kalau sudah menunaikan ibadah haji, ya berhak menyandang gelar haji.

Yang penting, niat dan tujuan kita berangkat haji itu lurus, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Bukan untuk mencari gelar atau pengakuan dari orang lain. Apalagi kalau kita berangkat haji mujamalah yang notabene membutuhkan biaya yang lebih besar, jangan sampai niatnya malah jadi riya’ atau pamer.

Jadi, bisa dibilang gelar haji ini lebih merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang sudah mengakar kuat. Enggak ada salahnya kok kalau kita menggunakan gelar ini sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang sudah beribadah haji. Tapi, yang paling penting, jangan sampai kita lupa esensi utama dari ibadah haji itu sendiri, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Apapun jalur hajinya, termasuk haji mujamalah, niat karena Allah itu yang utama.

Indra Eka Setiawan

Writer & Blogger

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook
Twitter
LinkedIn
Akun ke 3 Milik PT Wisata Halal Indonesia