JAKARTA – Haji khusus sering dianggap pilihan paling ideal karena masa tunggunya lebih singkat. Namun, pertanyaan sebenarnya bukan sekadar cepat atau lama, melainkan mana yang lebih masuk akal sesuai kondisi jamaah.
Haji khusus memang menawarkan antrean lebih pendek dan layanan lebih tertata. Jumlah jamaah biasanya lebih sedikit dan pendampingan lebih intensif. Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki keterbatasan usia atau kondisi kesehatan, haji khusus terasa lebih realistis.
Namun, bukan berarti haji reguler tidak masuk akal. Banyak jamaah yang secara fisik masih kuat dan tidak keberatan menunggu. Dalam kondisi seperti ini, haji reguler tetap menjadi pilihan yang baik dan sah secara ibadah.
Pilih Haji Khusus Jangan Berdasar Gengsi
Masalah muncul ketika haji khusus dipilih hanya karena tekanan lingkungan atau gengsi. Padahal, haji adalah ibadah panjang yang menuntut kesiapan fisik dan mental. Memilih haji khusus tanpa kesiapan bisa membuat perjalanan terasa berat, meski fasilitasnya lebih nyaman.
Haji khusus juga menuntut komitmen finansial yang lebih besar. Keputusan ini perlu dipertimbangkan matang bersama keluarga. Jangan sampai haji khusus justru menjadi beban psikologis sebelum keberangkatan.
Pada akhirnya, memilih antara haji khusus dan reguler bukan soal mana yang lebih bergengsi, tetapi mana yang sesuai kondisi diri. Beberapa travel seperti Wisata Halal Indonesia (WHI) sering mengingatkan lewat konten di @whi.umrohhaji bahwa haji khusus adalah soal kesiapan, bukan sekadar percepatan antrean.

