JAKARTA – Haji Mabrur sering dikaitkan dengan perubahan yang terlihat jelas setelah seseorang pulang dari Tanah Suci. Ada ekspektasi bahwa orang yang mendapatkan haji mabrur akan langsung menunjukkan perubahan drastis dalam sikap dan penampilan. Namun, apakah haji mabrur memang selalu terlihat secara kasat mata?
Secara makna, haji mabrur adalah haji yang diterima Allah dan membawa kebaikan berkelanjutan dalam kehidupan jamaah. Namun, perubahan itu tidak selalu dramatis atau instan. Haji mabrur lebih sering terlihat dalam konsistensi perilaku daripada simbol luar.
Masalah muncul ketika haji mabrur diukur dari persepsi publik. Jika seseorang tidak menunjukkan perubahan yang mencolok, sebagian orang cepat menilai. Padahal, haji mabrur adalah urusan antara hamba dan Tuhannya.
Haji Mabrur Bukannya Sempurna
Haji mabrur juga tidak identik dengan kesempurnaan tanpa salah. Manusia tetap bisa khilaf setelah pulang. Yang membedakan adalah kesadaran untuk kembali memperbaiki diri. Di sinilah makna haji mabrur menjadi lebih dalam.
Tanda haji mabrur sering kali sederhana: lebih sabar, lebih peduli, lebih menjaga ibadah. Perubahan ini mungkin tidak viral di media sosial, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari. Haji mabrur adalah proses, bukan status instan.
Karena itu, mengejar haji mabrur seharusnya dimulai sejak niat dan persiapan sebelum berangkat. Beberapa travel seperti Wisata Halal Indonesia (WHI) sering mengingatkan melalui konten di @whi.umrohhaji bahwa haji mabrur bukan soal cerita setelah pulang, tetapi kesiapan hati dan kesungguhan selama menjalani ibadah.


