JAKARTA – Banyak orang baru benar-benar memahami arti ibadah ketika usia tak lagi muda. Di titik itulah muncul satu kalimat yang sering terdengar, menyesal menunda haji. Bukan karena tak mampu, tapi karena terlalu lama menunggu waktu yang dianggap “lebih tepat”.
Menunda haji sering terasa logis. Ada yang ingin fokus membangun usaha dulu, menyekolahkan anak, atau menunggu kondisi ekonomi lebih stabil. Semua terdengar masuk akal. Namun, tanpa disadari, keputusan menunda ini perlahan menjadi kebiasaan.
Yang membuat banyak orang menyesal menunda haji bukan semata soal usia, tapi soal antrean. Masa tunggu haji reguler di Indonesia bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun. Ketika seseorang mendaftar di usia 45 tahun, bisa jadi baru berangkat saat usia mendekati 60. Risiko kesehatan tentu berbeda.
Selain itu, stamina menjadi faktor penting. Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga aktivitas fisik intens. Tawaf, sa’i, wukuf, hingga lontar jumrah membutuhkan kesiapan fisik. Mereka yang menyesal menunda haji sering mengatakan, “Andai saja daftar lebih cepat, kondisi badan masih lebih kuat.”
Ada pula aspek mental. Semakin matang usia, semakin banyak tanggung jawab. Fokus ibadah bisa terpecah oleh urusan keluarga atau bisnis. Padahal, haji membutuhkan ketenangan hati.
Menyesal Menunda Haji karena Teman Sudah Duluan Berangkat
Menyesal menunda haji juga muncul ketika melihat teman sebaya sudah lebih dulu berangkat. Bukan soal iri, tetapi rasa kehilangan kesempatan. Momentum muda tak bisa diulang.
Haji adalah panggilan. Namun, ikhtiar tetap di tangan manusia. Jika kemampuan sudah ada, menunda tanpa alasan syar’i sering berujung penyesalan. Karena waktu tak pernah benar-benar menunggu kesiapan kita.
Di beberapa edukasi yang dibagikan melalui @whi.umrohhaji, sering diingatkan bahwa keputusan mendaftar lebih awal bukan soal gaya hidup, tetapi strategi ibadah jangka panjang. Supaya tidak ada cerita menyesal menunda haji di kemudian hari.

