Umroh dengan Gaji UMR, Mungkinkah? Ini Cara Mengatur Keuangannya

Umroh dengan Gaji UMR, Mungkinkah? Ini Cara Mengatur Keuangannya

JAKARTA – Umroh dengan gaji UMR bukan sesuatu yang otomatis mustahil, meskipun memang perlu perhitungan yang lebih rapi. Apalagi kalau gaji bulanan sebagian besar sudah habis untuk kos atau kontrakan, makan, transportasi, tagihan, sampai membantu kebutuhan keluarga.

Banyak orang sebenarnya bukan tidak punya keinginan untuk umroh. Mereka hanya merasa penghasilan yang masuk setiap bulan terlalu pas untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga menyisihkan uang untuk perjalanan ke Tanah Suci terasa seperti sesuatu yang sulit dilakukan.

Umroh dengan gaji UMR, harus mulai dari mana?

Kalau membicarakan umroh dengan gaji UMR, hal pertama yang perlu dilakukan bukan langsung mencari cara mendapatkan uang tambahan. Coba cek dulu kondisi keuangan sendiri selama satu bulan penuh dan lihat ke mana saja uang tersebut pergi.

Kadang masalahnya bukan cuma nominal gaji, tetapi tidak adanya batas yang jelas antara kebutuhan, keinginan, dan uang yang memang ingin disimpan. Ketika semuanya menggunakan satu saldo yang sama, tabungan umroh biasanya menjadi bagian pertama yang dikorbankan saat ada pengeluaran mendadak.

Kamu bisa mulai dengan membuat target sederhana. Misalnya, tentukan kapan ingin berangkat, lalu cari kisaran biaya paket yang sesuai dengan kemampuan dan hitung berapa dana yang perlu disiapkan secara rutin.

Untuk umroh dengan gaji UMR, target tersebut sebaiknya jangan terlalu agresif. Jangan sampai karena ingin cepat berangkat, kamu malah menghabiskan seluruh uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan pokok atau tidak punya dana cadangan sama sekali.

Misalnya kemampuan menabung baru Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per bulan, tidak masalah. Yang penting nominal tersebut benar-benar disisihkan dan tidak diambil lagi untuk kebutuhan yang sebenarnya masih bisa ditunda.

Pemasukan tambahan juga bisa menjadi jalan untuk mempercepat target. Kalau ada pekerjaan freelance, lembur, bonus, atau penghasilan sampingan, sebagian dari uang tersebut bisa langsung masuk ke tabungan umroh sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.

Namun ada satu hal yang sering dilupakan. Ketika menghitung biaya umroh, jangan hanya melihat harga paket karena kamu tetap membutuhkan uang pegangan selama perjalanan.

Uang saku, kebutuhan pribadi, oleh-oleh, transportasi tambahan jika ada, dan berbagai kebutuhan kecil lainnya sebaiknya sudah masuk dalam perencanaan. Dengan begitu, kamu tidak merasa aman karena sudah punya uang untuk paket tetapi ternyata masih kekurangan dana ketika hari keberangkatan semakin dekat.

Bagi yang merasa tabungannya akan terlalu lama terkumpul, pembiayaan juga bisa menjadi salah satu pilihan yang dipelajari. WHI bersama BFI Finance Syariah memiliki Program Pembiayaan Umroh Syariah dengan akad Ijarah Multijasa, DP mulai 15 persen dari total paket, serta pilihan tenor 3–36 bulan.

Skema seperti ini bukan berarti semua orang harus mengambil cicilan. Justru untuk umroh dengan gaji UMR, kamu perlu melihat kemampuan membayar secara jujur sebelum memutuskan, termasuk menghitung cicilan yang sudah berjalan dan kebutuhan rumah tangga setiap bulan.

Kalau penghasilan pas-pasan, jangan hanya bertanya, “Bisa berangkat atau tidak?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Kalau berangkat, apakah kondisi keuangan setelah itu masih aman?”

Pertanyaan tersebut penting karena perjalanan umroh hanya berlangsung beberapa hari, sedangkan kewajiban pembayaran atau kebutuhan rumah tangga tetap berjalan setelah kamu pulang. Jangan sampai keinginan beribadah malah membuat kebutuhan penting di rumah menjadi terganggu.

Untuk umroh dengan gaji UMR, kamu juga bisa mempertimbangkan keberangkatan bersama pasangan atau keluarga dengan perencanaan sejak jauh hari. Ketika target dibuat bersama, pembagian dana dan prioritas pengeluaran bisa dibicarakan lebih terbuka.

Tidak perlu merasa minder hanya karena belum mampu menyisihkan uang dalam jumlah besar. Ada orang yang bisa menabung jutaan rupiah setiap bulan, tetapi ada juga yang harus memulai dari ratusan ribu rupiah.

Yang membuat perbedaan adalah konsistensi. Uang Rp300 ribu yang benar-benar disimpan setiap bulan jauh lebih berguna daripada target Rp2 juta yang hanya bertahan satu atau dua bulan lalu berhenti karena terlalu berat.

Kalau sudah mulai serius merencanakan umroh dengan gaji UMR, sebaiknya kamu juga mulai membiasakan diri mencatat pengeluaran. Dari catatan tersebut biasanya terlihat pengeluaran mana yang sebenarnya bisa dipangkas tanpa mengganggu kebutuhan utama.

Misalnya, terlalu sering membeli makanan atau minuman di luar bisa dialihkan beberapa kali dalam sebulan. Bukan berarti kamu harus berhenti menikmati hidup, tetapi ada bagian tertentu yang bisa dikurangi sementara karena kamu sedang mengejar tujuan yang lebih besar.

Jangan lupa juga menyiapkan dana darurat secara terpisah. Tabungan untuk umroh sebaiknya tidak menjadi satu-satunya uang yang kamu punya, karena hidup tetap punya kebutuhan tidak terduga yang tidak bisa menunggu sampai kamu pulang dari Tanah Suci.

Jadi, umroh dengan gaji UMR memang membutuhkan disiplin lebih besar, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kuncinya ada pada target yang realistis, kebiasaan menyisihkan uang, pengendalian pengeluaran, serta memilih cara pembayaran yang tidak membuat kondisi keuangan menjadi terlalu berat.

Kalau masih bingung menentukan paket dan menghitung kemampuan pembayaran, kamu bisa konsultasi dulu dengan @whi.umrohhaji. Tidak harus langsung mengambil keputusan, karena mengetahui pilihan paket dan skema pembayaran sejak awal justru bisa membantu kamu membuat target keuangan yang lebih masuk akal.

Indra Eka Setiawan

Writer & Blogger

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook
Twitter
LinkedIn
Akun ke 3 Milik PT Wisata Halal Indonesia